Thursday , 12 December 2019
Melebur emas : Salah seorang pengrajin kemasan sedang melebur emas sebagai bahan kerajinan perak dan tembaga
Melebur emas : Salah seorang pengrajin kemasan sedang melebur emas sebagai bahan kerajinan perak dan tembaga

KERAJINAN PERAK DAN TEMBAGA LESU

Slawi – Kondisi industri kecil sentra kerajinan perak dan tembaga di Desa Pesayangan Kecamatan Talang sedang mengalami stagnasi dan kelesuan. Setelah beberapa waktu lalu mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan mewabahnya demam batu akik, saat ini kondisinya mulai bertolak belakang. Hal ini disebabkan pemasaran kerajinan batu akik mengalami penurunan yang sangat tajam dan bahkan seperti tidak terdengar lagi gaungnya.
Perangkat Desa Pesayangan, Deden Arisandi, yang juga merupakan salah satu pengrajin perak dan tembaga, mengatakan bahwa jumlah pengrajin perak dan tembaga yang ada di Desa Pesayangan sekitar 80 orang. Dari jumlah tersebut sebenarnya sangat mendukung perekonomian warga sekitar, karena mampu menyerap hampir 450 tenaga kerja. Namun sayang, seiring dengan meredupnya pemasaran perhiasan batu akik serta kerajinan perak dan tembaga yang sepi dan lesu menyebabkan para pengrajin tidak melakukan produksi. Ditambah lagi pesanan kerajinan seperti kalung, gelang, dan cincin dari daerah lain juga sedang mengalami penurunan yang tajam.
Salah satu pengrajin perak dan tembaga, Marwan, Senin (9/11), mengatakan bahwa kerajinan perak dan tembaga sempat menjadi primadona usaha masyarakat pada kurun tahun 1990-an. Namun dalam beberapa tahun terakhir usaha kerajinan perak dan tembaga mengalami masa surut. “Saat ini hanya beberapa pengrajin saja yang berproduksi dan sebagian besar lainnya meliburkan karyawannya karena pesanan dari agen sedang tidak ada. Sementara di tempat kami jika tidak berproduksi kami membeli limbah air dan geram dari proses pembuatan kerajinan dan kami olah untuk diambil emasnya serta kami membeli perhiasan emas,” ungkapnya.
Hj. Chanisah, salah satu pengrajin kemasan yang masih eksis mengatakan bahwa kendala yang dihadapi selama ini adalah masalah pemasaran dan pengrajin tidak mempunyai kekuatan dalam pemasaran dan penentuan harga produk. “Produk yang kami buat sesuai dengan pesanan dari agen atau pengepul. Kami tidak dapat menentukan harga karena semua harga ditentukan dari pengepul. Istilahnya kami hanya jasa untuk pembuatan kerajinan saja seperti gelang, kalung, cincin, dan gelang keroncong. Dan untuk mengatasi kondisi yang sepi, kami juga membuat produk makanan untuk menopang keseharian kami,” ungkapnya lebih lanjut. Dia juga mengungkapkan, selain order, produk-produk yang dihasilkan perusahaannya juga dipasarkan ke daerah Cirebon, Indramayu, Semarang dan Surabaya. (Amin Thoyib M/UPL)

About admin

Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan selalu menjadi mitra usaha rakyat kecil dan membangun bersama meningkatkan kualitas dan sumberdaya alam dan manusia.

BACA JUGA

66730195_1085946641608685_8563644414281383936_n

TRAINING MOTIVASI

16 Juli 2019 “Berfikir untuk berprestasi, bukan berfikir untuk mendapatkan uang” Prestasi yang terkecil adalah ...

Leave a Reply